Endless journey

                           💥 Endless journey💫

Matahari senja perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang memudar di langit. Dalam keheningan sore itu, seorang remaja laki-laki duduk di lantai kayu yang dingin di kamarnya yang kecil namun rapi. Kosannya, meskipun sederhana, menyimpan kenangan yang tak terhitung jumlahnya. Setiap sudut ruangan ini telah menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya selama beberapa tahun terakhir. Namun, hari ini, semua itu akan berakhir.

Tangannya bergerak cekatan, memasukkan barang-barang penting ke dalam tas yang tergeletak di depannya. Buku-buku, pakaian, dan beberapa benda pribadi yang bermakna, semuanya ditempatkan dengan teliti. Tak ada keraguan dalam gerakannya, hanya ketegasan dan keheningan yang menemaninya. Ekspresi wajahnya tetap dingin, mata birunya yang tajam hanya fokus pada tugas yang ada di depan.

Ini sudah saatnya," gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan ruangan.

Setelah memastikan semua barang telah terkemas rapi, ia berdiri, mengangkat tasnya, dan memandang sekeliling untuk terakhir kalinya. Kosan ini telah menjadi tempat perlindungan, namun kini ia harus meninggalkannya. Dengan tarikan napas yang dalam, ia melangkah keluar, meninggalkan pintu kamar yang tertutup rapat di belakangnya.

Langkah-langkahnya bergema di lorong kosong saat ia berjalan menuju pintu keluar. Malam mulai menyelimuti kota, membawa serta dingin yang menyusup hingga ke tulang. Tidak ada seorang pun di sekitarnya; hanya ada suara angin yang berhembus pelan, seolah mengiringi perjalanannya menuju tujuan yang tak terhindarkan.

Stasiun kereta terlihat lengang saat ia tiba di sana. Tak ada lalu lalang orang-orang, hanya keheningan yang menunggu kedatangannya. Remaja itu berhenti sejenak, memandang ke sekeliling, sebelum menatap rel yang terbentang di depannya. Rel itu tampak seperti garis lurus tanpa akhir, mengarah ke suatu tempat yang tidak diketahui, namun juga tak bisa dihindari.

Kereta datang dengan deru mesin yang lembut, membuka pintu-pintu besinya dengan anggun. Tanpa ragu, ia melangkah masuk, mencari tempat duduk di bagian belakang, jauh dari pandangan orang lain. Ia melemparkan pandangan terakhir ke luar jendela, menatap kota yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Bayangan gedung-gedung yang tinggi dan jalan-jalan yang pernah ia kenal mulai memudar, tergantikan oleh pemandangan yang asing dan tak terduga.

Wajahnya tetap tanpa ekspresi, meski hatinya dipenuhi oleh perasaan campur aduk. Ada rasa rindu yang samar, namun juga kesadaran bahwa tidak ada jalan kembali. Keputusannya telah diambil, dan ia harus menjalani konsekuensinya, apapun yang terjadi.

Kereta itu terus melaju, mengantarnya semakin jauh dari masa lalu yang ia tinggalkan. Waktu seolah melambat, memberikan ruang bagi pikirannya untuk mengembara ke tempat-tempat yang tak terduga. Ia duduk diam, merenung, sambil menatap keluar jendela yang memantulkan bayangan dirinya—bayangan seorang remaja yang tengah mencari sesuatu, meski ia belum sepenuhnya yakin apa yang ia cari.

Setelah perjalanan yang terasa abadi, kereta itu akhirnya berhenti di stasiun tujuan. Pintu terbuka, mengundang dinginnya malam untuk masuk ke dalam gerbong. Remaja itu bangkit, melangkah keluar dengan ketenangan yang dingin, meski dalam hatinya, ia tahu bahwa apa yang menantinya tidak akan mudah.

Langit malam telah menggantungkan bulan yang pucat di atas Kota Empitines. Gedung-gedung tinggi menjulang, atap-atapnya seolah memeluk langit yang gelap. Kota ini sunyi, seakan terjebak dalam waktu yang membeku. Tidak ada satu pun orang di jalanan, hanya keheningan yang membungkus setiap sudutnya. Lampu-lampu jalan berkedip lemah, memberikan cahaya remang yang semakin memperkuat suasana mencekam.

Remaja itu berdiri di halte bus yang sepi, menunggu dalam diam. Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Di kejauhan, suara bus yang mendekat terdengar, memecah kesunyian. Remaja itu tidak menunjukkan emosi apapun, hanya menunggu dengan sabar hingga bus berhenti di depannya.

Setelah naik ke dalam bus, ia duduk di salah satu bangku belakang, kembali menatap jendela. Kota Empitines menyambutnya dengan keheningan yang lebih pekat daripada yang pernah ia bayangkan. Bayangan gedung-gedung yang tinggi dan toko-toko yang telah lama tutup melintas di depannya, menciptakan pemandangan yang suram dan dingin.

Ketika bus berhenti, ia turun dan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Langkah-langkahnya terdengar jelas di atas aspal yang kosong, seolah setiap langkahnya menandai awal dari sesuatu yang besar. Di sekelilingnya, lorong-lorong gelap mengintip dengan bayangan-bayangan yang bergerak samar. Lampu-lampu jalan berkedip, menciptakan atmosfer yang tidak nyaman.

Ia tahu, sejak pertama kali ia menjejakkan kaki di kota ini, bahwa Kota Empitines bukanlah kota biasa. Di sini, setiap sudut dan celahnya menyimpan rahasia—rahasia yang mungkin hanya bisa ia ungkapkan 

Namun ia tak gentar. Dengan tatapan dingin dan penuh tekad, ia terus berjalan di tengah malam yang gelap, menyusuri jalanan sepi yang hanya ditemani oleh keheningan yang mencekam. Kota Empitines menunggunya, dan ia siap untuk menghadapi apapun yang datang.

Bersambung...


Pembuat:m.arsil💫
Team support:gada -_-
 Se you the next chapter










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gojo Satoru Guide